Translate

Tampilkan postingan dengan label الاحاديثا لقدسية. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

thumbnail

ذ كرالله (Dzikir)

Hadits tentang orang yang sibuk dengan Al Qur’an dan dzikir hingga lupa dari meminta kepada-Ku


(٣٥٨) عَنْ أَبِىْ سَعِيْدٍ اْلْخُدْرِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُوْلُ الرَّبُّ عَزَّوَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَ ذِكْرِى عَنْ مَسْأَلَتِى، أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَاأُعْطِى السَّاءِلِيْنَ. وَفَضْلُ كَلاَمِ اللهِ عَلَى سَاإِرِالْكَلاَمِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ. (أخرجه الترمذى)
358. Artinya:
“Dari Abu Sa’id Al Khudri ra berkata: Rasulullah saw, bersabda: Tuhan yang maha Mulia dan maha Besar berfirman: ‘Barang siapa yang sibuk membaca Al qur’an dan dzikir kepada-Ku dengan tidak memohon kepada-Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang meminta’. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhluk-Nya.”
Hadits ini ditakhrijkan oleh At Turmudzi dalam Jami’nya sebelum bab Tafsir, jilid II, hal. 152 menurut Abu Isa At Turmudzi ra hadits ini Hasan Gharib.

Jumat, 14 Oktober 2011

thumbnail

الاَحَادِيْثُالْقُدْ سِيَّةُ

15. INFAQ DAN KEUTAMAANNYA

Sumber: Kelengkapan Hadits Qudsi, pengalih bahasa: Drs. Muhammad Zuhri, hal.274. Penerbit CV Toha Putra Semarang.

(١٤٦) حَدَّثَنَااِسْمَاعِيْلُ، قَالَ: حَدَّثَنِىْمَالِكٌ، عَنْ اَبِىْ الزِّنَادِ، عَنِ اْلاَعْرَجِ، عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَرَضِىَ اللهُ عَنْهُ؛ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ: اَنْفِقْ يَاابْنَ آد َمَ، اُنْفِقْ عَلَيْكَ. (اخرجه البخارى)

146. Artinya:

Ismail bercerita kepada kami, ia berkata: Imam Malik bercerita kepadaku, dari Abu Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman: “Wahai anak Adam belanjakanlah, maka Aku akan memberi belanja kepadamu”.

Hadits ini ditakhrijkan oleh Al Bukhari dalam kitab Nafaqah dan keutamaan nafaqah, jilid V halaman 72.

 

Sabtu, 13 Agustus 2011

thumbnail

الاحَادِيْثُا لقُدْ سِيَّة

16. PUASA DAN KEUTAMAANNYA


Sumber: Kelengkapan Hadits Qudsi, pengalih bahasa: Drs. Muhammad Zuhri, hal.281-282. Penerbit CV Toha Putra Semarang.



(١٥٦) حَدَّ ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ ، عَنْ مَا لِكٍ ، عَنْ اَبِى الزِّنَادِ ، عَنِ اْلاَعْرَجِ ، عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْ فُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَاِنِ امْرُؤٌقَاتَلَهُ اَوْ شَا تَمَهُ، فَلْيَقُلْ: اِنَّى صَا ءِمٌ مَرَّتَيْنِ، وَالَّذِ ىْ نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوْ فُ فَمِ الصَّا ءِمِ، اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ اَجْلِى، الصِّيَامُ لِىْ، وَاَنَا اَحْزِىْ بِهِ، وَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَا لِهَا. .﴿اخرجه البخارى﴾


156. Artinya:


Abdullah bin Maslamah bercerita kepada kami dari Malik bin Abu Zinad, dari A’raj, dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Puasa itu benteng, maka janganlah berkata keji dan jangan berbodoh diri.


Jika seseorang menentang atau memakinya maka hendaknya ia berkata “Sesungguhnya saya sedang puasa” dua kali. Demi dzat yang diriku di tanganNya, bau busuknya mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. Ia meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untukKu dan Aku membalasnya. Kebaikan itu lipat sepuluh.


Hadits ini ditakhrijkan oleh Al Bukhari dalam kitab Puasa. Bab Keutamaan puasa jilid III, hal. 24.


Senin, 01 Agustus 2011

thumbnail

اللاحا دِيث القُد سيه

2. MEMBENARKAN AKIDAH (KEPERCAYAAN)

Sumber: Kelengkapan Hadits Qudsi, pengalih bahasa: Drs. Muhammad Zuhri, hal.48-51. Penerbit CV Toha Putra Semarang.


(١٦) حَدَّ ثَنَا الحُمَيْدِ ىُّ، حَدَّ ثَنَاسُفْيَانُ، حَدَّ ثَنَاالزُّهْرِىُّ، عَنْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: (يُؤْذِ يْنِى ابْنُ اٰدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَاَنَاالدَّهْرُ، بِيَدِىْ الاَمْرُ، اُقَلِّبُ الَّليْلَ وَالنَّهَارَ) (رواه البخارى)

16. Artinya:

Humaidi bercerita kepada kami, Sufyan bercerita kepada kami, Az Zuhri bercerita kepada kami, dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah ra berkata: “Rasullullah bersabda: Allah yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: ‘Anak Adam (manusia) menyakiti Aku dengan mencaci maki tahun dan Akulah tahun. Dan ditangan Akulah segala urusan, Aku balik siang dan malamnya”.

Dipetik dari Shahih Bukhari – Kitab Tafsir jilid VI hal.133. Al Bukhari meriwayatkan juga dalam Bab: Janganlah kamu mencaci maki tahun, jilid VIII hal.41 pada kitab Adab.

(١٧) عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ: (يَسُبُّ بَنُوْ اٰدَمَ الدَّهْرَ، وَاَنَاالدَّهْرُ، بِيَدِ ى اللَّيْلُ وَ النَّهَارَ) (أخرجه البخارى)

17. Artinya:

Dari Abu Hurairah ra berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: “Bani Adam (manusia) mencaci maki masa, Akulah masa, di tangan Akulah siang dan malam”.

Ditakhrijkan oleh Al Bukhari dalam kitab Tauhid Bab firman Allah Ta’ala, mereka bermaksud mengganti firman Allah. Lafal haditsnya seperti lafal tersebut di atas. Dipetik dari kitab Tafsir.

Muslim, Abu Dawud mentakhrijkan hadits ini dalam Adab, dan An Nasai dalam tafsirnya. Menurut riwayat Muslim dengan lafazh sebagai berikut:

(١٨) يُؤْ ذِ يْنِى ابْنُ اٰدَمَ يَقُوْلُ: يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ، فَاِ نِّىْ اَنَا الدَّهْرُ، اُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَا رَهُ (رواه مسلم)

18. Artinya:

“Anak Adam menyakiti Aku, ia berkata:”Hai tahun yang merugi, karena sesungguhnya Akulah tahun itu, Aku balik siang dan malamnya”. (HR Muslim).

Kelanjutan riwayat Muslim adalah seperti riwayat Bukhari sehingga tidak perlu disebutkan di sini.

Penjelasan hadits no. 16 s.d. 18.

Dari syarah Qasthalani.

Firman Allah: “Anak Adam menyakiti Aku” yakni pembicara berbicara kepadaKu dimana pembicara menyakitkan pendengarnya yang diajak bicara itu. Oleh karena itu, orang yang mengucapkan itu dikatakan menyakitkan orang yang diajak bicara dan mendengarnya, karena Allah Ta’ala Maha Suci (terhindar sama sekali) dari terkena yang menyakitkan dari pihak manapun. Sehingga yang dimaksudkan adalah: Orang tersebut menempatkan dirinya untuk mendapat hal yang menyakitkan dari Allah Ta’ala.

Firmannya: “Mencaci maki tahun” yakni apabila seseorang tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan maka ia berbicara: “Celaka kamu hai tahun”.

Firmannya: “Akulah tahun” yakni Aku adalah pencipta tahun dan segala peristiwa yang terjadi pada tahun itu. Oleh karena itu, Allah berfirman: “Di tanganKulah urusan itu” yakni segala urusan yang mereka kaitkan dengan tahun yang karenanya mereka mencaci maki tahun. Akulah yang mewujudkan dengan kekuasaanKu, sebab tahun itu sedikitpun tidak memiliki pengaruh terhadap sesuatu.
FirmanNya: “Aku balik siang dan malam” yakni Akulah yang mewujudkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun itu.

Sabtu, 09 Juli 2011

thumbnail

Hadits Qudsi

Sekelumit perkenalan dengan para penyusun kitab hadits yang menjadi sumber pengambilan hadits-hadits qudsi ini – Bagian 5, 6 & 7
Dikutip dari buku hadits qudsi, penterjemah Muhammad Zuhri. Penerbit CV Toha Putra Semarang. (1982:15-17)
5. Imam At Tirmidzi
Ia adalah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah At Tarmidzi. Dilahirkan tahun 200 H, dan meninggal di Tirmidz pada malam senin 13 Rajab tahun 279 H.
Ia salah seorang ulama huffazh (penghafal hadits) dan ia bertemu guru-guru ranking pertama seperti Qutaibah bin Sa’id, Muhammad bin Bisyar, Ali bin Hajar dan imam-imam hadits lain.

Orang-orang yang banyak belajar darinya, dan ia mempunyai karangan-karangan yang banyak dalam bidang ilmu hadits. Kitab shahihnya adalah sebaik-baik kitab, banyak faedahnya dan paling sedikit pengulangannya.
At Tirmidzi berkata: “saya kemukakan kitab ini atas ulama Hijaz, Iraq dan Khurasan. Lalu mereka menyukai dan memandangnya baik. Barang siapa yang di rumahnya ada kitab itu maka seolah-olah di rumahnya ada Nabi bersabda”.

6. Imam An Nasa-i
Ia adalah Abu Abdur Rahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Bahr An Nasa-i. Ia dilahirkan pada tahun 215 H dan meninggal di Mekah tahun 303 H. Ia salah seorang penghafal hadits.
Ia belajar dari Qutaibah bin Sa’id, Ali bin Khasyram, Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Bisyar, Abu Dawud As Sijistani dan lain-lain. Dan orang banyak mengambil (belajar) kepadanya. Ia menyusun beberapa kitab hadits dan bermadzab Syafii ra. Ia seorang wara’ yang terus menerus. Ibnu Umar Hafizh berkata: Abu Abdir Rahman An Nasa-i terkemuka atas setiap orang yang disebutkan pada masanya dalam bidang ilmu hadits.

Sekelompok guru dan huffazh (penghafal hadits) berkumpul padanya antara lain: Abdullah bin Ahmad di Tharsus, dan mereka menulis seluruh hadits-hadits dengan pilihannya.
Sebagian para amir bertanya kepadanya tentang kitab susunannya, apakah seluruhnya shahih.
Dijawabnya bahwa di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan dan yang mendekatinya. Sebagian amir-amir itu berkata: “Tulis yang shahih saja untuk kami”. Lalu ia menyusun “Al Mujtaba minas sunan” dengan meninggalkan setiap hadits yang di dalamnya sanadnya ada illatnya.

Berkatalah pengarang Taisirul wusul yang menjadi sumber penukilan riwayat-riwayat hidup ini: “Inilah sekilas peri keadaan imam-imam itu yang menunjukkan atas kebesaran derajat dan ketinggian martabat mereka ra dalam bidang ilmu hadits”.

7. Imam Ibnu Majah
Ia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah penyusun kitab Sunan yang terkenal.
Ia menunjukkan atas amalnya, ilmunya, pendalaman dan penelaahannya dan dalam mengikuti As Sunnah dalam pokok dan cabang.

Kitab itu memuat 32 kitab, 1.500 bab yang terdiri dari 4.000 buah hadits, seluruhnya baik kecuali sedikit saja.
Ibnu Majah memiliki tafsir yang banyak dan Tarikh yang sempurna sejak sahabat sampai masanya.
Imam-imam besar Dima’ telah meriwayatkan dari padanya yakni Ibnu Sibawaih, Muhammad bin Isa Ash Shaffar, Ishaq bin Muhammad dan Ali bin Ibrahim.Ia ra meninggal pada tanggal 8 Ramadhan tahun 273 H dalam usia 64 tahun. (Dari Al Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir Jilid XI, hal 52.)

Download file di sini.

Rabu, 29 Juni 2011

thumbnail

Hadist Qudsi

Sekelumit perkenalan dengan para penyusun kitab hadits yang menjadi sumber pengambilan hadits-hadits qudsi ini – Bagian 1
Dikutip dari buku hadits qudsi, penterjemah Muhammad Zuhri. Penerbit CV Toha Putra Semarang. (1982:10-12)
Imam Malik ra
Ia adalah Abu Abdillah Malik bin Anas Al Ashbuhi Imam Madinah. Dilahirkan pada tahun 95 H dan meninggal di Madinah tahun 179 H. Dengan demikian ia berusia 84 tahun.
Ia adalah Imam Hijaz bahkan imam manusia dalam fiqh dan hadits. Dan cukup sebagai kemegahannya adalah Imam Asy Syafi’I ra adalah muridnya.

Ia belajar dari Ibnu Syihab Az Zuhri, Yahya bin Sa’id Al Anshari, Nafi’ maula Ibnu Umar ra dan lain-lain. Ia menjadi tempat belajar dari orang-orang yang tidak terhitung banyaknya antara lain Asy Syafii, Muhammad bin Ibrahim bin Dinar, Ibnu Abdur Rahman Al Makhzumi, Abdul Aziz bin Abu Hasim mereka ini dipandang sebagai teman-temannya. Ma’in bin Isa Qazzaz, Abdul Malik bin Abdul Aziz Al Majisyun, Yahya bin Yahya Al Andalusi, Abdullah bin Maslamah Al Qa’anbi, Abdullah bin Wahab, Ashbu’bin Faraj, mereka adalah guru-guru Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tarmidzi, Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in dan imam-imam hadits lain.
At Tarmidzi meriwayatkan dalam kitab Jami’nya dari Abu Hurairah ra berkata:
Rasulullah saw bersabda:


يُوْشِكُ النَّاسُ اَنْ يَضْرِبُوْااَكْبَادَاْلاِبِلِ يَطْلُبُوْنَ الْعِلْمَ فَلاَ يَجِدُوْنَ اَحَدًَااَعْلَمَ مِنْ عَاِلمِ الْمَدِيْنَةِِ


Artinya: “Manusia hampir-hampir mengorbankan hati onta (sulit sekali) untuk mencari ilmu dan mereka tidak menjumpai orang yang lebih pandai daripada orang alimnya Madinah”.
Menurutnya hadits ini hasan.
Abdul Razzaq dan Sufyan bin Uyainah berkata: bahwa orang tersebut adalah Malik bin Anas.
Malik ra berkata: “Sedikit yang mana saya mencatat ilmu daripadanya meninggal sehingga ia datang dan meminta fatwa kepadaku.

Pada suatu hari ia berhadits dari Rabi’ah bin Abu Abdit Rahman lalu kaum itu minta tambahan haditsnya. Ia berkata:”Apakah yang kamu perbuat dengan Rabi’ah padahal ia masih tidur pada kain bayi!”
Lalu Rabiah datang dan ditanya: ”Kamu Rabi’ah yang mana Malik mengambil hadits dari padamu?”
Ia menjawab: “Ya”. Ditanyakan kepadanya: “bagaimana bagianku padamu Malik? Padahal kamu belum memberi bagian pada dirimu?” Ia menjawab: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa seonggok kekuasaan lebih baik dari pada satu muatan ilmu?”

Malik ra sangat mengagungkan ilmu. Apabila ia mau berhadits maka dia wudhu lalu duduk dengan terhormat dan wibawa dan menggunakan minyak harum.
Ia seorang yang berwibawa. Sebagian orang-orang Madinah berkata:


يَدَعُ الْجَوَابَ فَلاَ يُرَاجِعُ هَيْبَةًَ.وَالسَّائِلُوْنَ نَوَاكِسُ اْلاَذْقَانِ
اَدَبُ اْلوِقَارِوِعَزُّسُلْطَانٍِ التُّقٰى. فَهُوَالمُطَاعُ وَلَيْسَ ذَاسُلطَانِ

Artinya:
Ia meninggalkan jawaban dan tidak mengulang-ulangnya dengan penuh wibawa.
Sedang orang-orang yang bertanya menggerak-gerakkan dagunya (tanda setuju).
Adab kewibawaan dan mulianya kekuasaan adalah ketakwaan.
Ia ditaati padahal tidak mempunyai kekuasaan.

Yahya bin Sa’id Al Qaththan berkata: “Di dalam kaum itu tidak ada orang yang lebih shahih haditsnya daripada Malik”, Asy Syafii ra berkata: “Apabila menyebut ulama maka Malik adalah bintangnya”.
Diriwayatkan bahwa Mansur melarang Malik dari periwayatan hadits tentang perceraian orang yang dipaksa, kemudian orang yang bertanya itu membuat tipu daya.
Lalu Malik meriwayatkan dikalangan orang banyak:


لَيْسَ عَلٰى مُكْرَهٍِ طَللاَقٌُ


Artinya: “Tidak ada perceraian atas orang yang dipaksa”.
Lalu Malik dipukul dengan cemeti namun ia tetap tidak mau meninggalkan periwayatan hadits.

Ketika Harun Ar Rasyid menunaikan ibadah haji. Harun mendengar Muwaththa’ dari Malik, dan Harun memberinya 3.000 dinar. Kemudian Harun berkata kepadanya: “Seyogyanya bagimu untuk keluar (dari Madinah=pen) bersama kami, karena saya sungguh ingin membawa manusia kepada Muwaththa’; sebagaimana Utsman ra membawa manusia kepada Al Qur’an”. Ia (Malik) menjawab: “Adapun membawa manusia kepada Muwaththa’ adalah tidak ada jalan, karena para sahabat Nabi SAW telah bertebaran di beberapa Negara seperti penduduk Mesir, sedangkan Nabi SAW telah bersabda:


احْتِلاَفُ اُمَتِىْ رَحْمَةٌٌ

(Perbedaan umatku adalah rahmat).
Adapun keluar bersamamu maka tidak ada jalan. Juga Rosulullah bersabda: “Madinah itu lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui. Inilah dinar-dinar kamu sebagaimana sedianya. Saya tidak mengutamakan dunia dari pada Madinah Rasulullah SAW (Madinah)”.

Asy Syafii ra berkata: “Saya melihat tempat air minum kuda-kuda Khurasan, dan keledai Mesir yang mana belum pernah saya melihat kuda dan keledai yang lebih baik dripadanya. Saya berkata kepadanya: “Alangkah baiknya”. Ia (Malik) berkata: “Ia adalah hadiah dari saya untukmu”. Saya berkata kepadanya: “Biarkanlah untukmu hewan itu untuk kau naiki”. Ia menjawab: “Sesungguhnya saya malu kepada Allah manakala saya menginjak tanah yang di dalamnya ada Rasulullah SAW dengan naik hewan (kendaraan)”.
Riwayat hidupnya sangat panjang. Semoga ia selalu mendapat rahmat Allah, Amin.


Download file di sini.

Arsip Master Pendidikan